Dua tahun sudah terlewati, setengah (amin) perjalananku di ITB. Dua tahun yang memberiku banyak pelajaran, bukan hanya pelajaran formal tapi juga pelajaran hidup. Aku masih ingat awal-awal hidup sendiri, betapa aku ingin menyerah saja. Tapi toh akhirnya aku bisa sampai sini juga.
Di titik ini, aku bisa bilang dengan yakin, aku sangat bersyukur atas pilihanku dan atas semua yang aku dapat. Berada jauh dari orang tua, kuliah di jurursan yang terkenal menyeramkan, semua itu ada hikmahnya juga.
Di sini aku menemukan teman-teman, keluarga , cinta, dan persahabatan. Aku tidak lagi merasa sendirian. Ada mereka selalu di sekelilingku.
Soal kuliah, orang bilang jurusanku berat. Orang bilang isinya hanya belajar. Ya memang, tapi yang aku dapat di sini bukan hanya pembelajaran akademik tapi juga banyak hal lain. Soal kuliah yang berat dan persaingan yang kompetitif, mau bagaimana lagi, itulah yang membuatku terpacu. Mungkin kalau lingkungannya tidak seperti ini aku tidak akan ‘terpaksa’ . Memang sih agak pontang-panting, tapi kalau yang lain bisa kenapa aku tidak mencoba.
Terakhir, khusus semester ini, inilah semester terbaikku sejauh ini. Bukan dari hasilnya, tapi dari apa yang kulakukan. Inilah pertama kali aku bisa melakukan hal yang sangat aku ingin dari dulu, belajar bahasa asing. Semester ini aku juga merasakan punya banyak teman-teman dan keluarga. Mulai dari anak-anak ludruk, anak teknik kimia, sampai teman-teman les.
Semoga ke depannya semua berjalan dengan lancar dan aku bisa berusaha lebih baik lagi. Amin.